Beritafifa.com – Xabi Alonso harus menelan pil pahit di markas lamanya. Real Madrid yang ia tangani gagal melanjutkan tren positif di Liga Champions musim ini setelah tumbang 1-0 dari Liverpool pada laga lanjutan League Phase 2025/2026, dini hari tadi di Anfield.
Datang dengan kepercayaan diri tinggi usai memenangi lima laga beruntun di kompetisi ini, Los Blancos sejatinya bertekad memperpanjang catatan impresif tersebut. Namun, atmosfer Anfield yang membara dan permainan agresif tuan rumah membuat rencana Alonso berantakan.
Gol tunggal The Reds menjadi pembeda pada laga yang berlangsung ketat itu. Kekalahan ini sekaligus menjadi refleksi penting bagi Alonso—yang notabene pernah menjadi bagian dari Liverpool semasa aktif bermain—untuk memperbaiki sejumlah aspek timnya sebelum melakoni pertandingan berikutnya.
Selalu Kalah dari Liverpool

Karier Xabi Alonso sebagai pelatih kepala memang masih terbilang muda. Ia baru memulai langkahnya di dunia kepelatihan pada tahun 2022, ketika dipercaya menukangi Bayer Leverkusen. Namun, dalam waktu singkat, Alonso berhasil mencuri perhatian berkat gaya permainan modern dan efektif yang ia terapkan.
Meski begitu, ada satu tim yang tampaknya masih menjadi batu sandungan bagi karier kepelatihannya: Liverpool. Dalam tiga tahun terakhir, Alonso sudah dua kali berhadapan dengan mantan klubnya itu — dan dua-duanya berakhir dengan kekalahan.
Musim lalu, ketika masih melatih Leverkusen, Alonso harus menyaksikan timnya dibantai 4-0 oleh The Reds di ajang League Phase Liga Champions. Kini, bersama Real Madrid, ia kembali gagal meraih kemenangan setelah takluk 1-0 di Anfield dini hari tadi. Secara keseluruhan, Alonso mencatat dua kekalahan dari dua pertemuan melawan Liverpool, dengan catatan kebobolan lima gol tanpa sekali pun membalas.
Hati Masih Merah?

Rekor buruk Alonso saat menghadapi Liverpool sedikit banyak memperlihatkan bahwa sang pelatih masih memiliki ikatan emosional dengan klub lamanya tersebut. Wajar saja, karena Liverpool merupakan tim yang berperan besar dalam perjalanan kariernya, baik sebagai pemain maupun sebagai sosok yang dikenal dunia sepak bola internasional.
Darah merah The Reds sudah mengalir dalam karier Alonso sejak tahun 2004, ketika ia direkrut dari Real Sociedad oleh Rafael Benítez. Lima tahun pengabdiannya di Anfield menjadi periode emas bagi gelandang asal Spanyol itu. Ia tampil sebagai otak permainan di lini tengah, dikenal dengan visi luar biasa dan umpan-umpan presisi yang menjadi ciri khasnya.
Selama membela Liverpool, Alonso turut mempersembahkan sejumlah gelar bergengsi, termasuk trofi Liga Champions yang legendaris pada musim 2004/2005, Piala FA, dan UEFA Super Cup. Setelah itu, barulah ia kembali ke Spanyol untuk memperkuat Real Madrid, namun kenangan indah di Anfield tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya hingga kini.
Mencoba Bangkit

Kekalahan dari Liverpool tentu menjadi pukulan bagi Real Madrid, namun hal itu tidak boleh terlalu disesali. Bagi Xabi Alonso dan para pemainnya, hasil tersebut justru harus dijadikan pelajaran berharga untuk memperbaiki performa di laga-laga berikutnya. Fokus kini harus segera dialihkan ke kompetisi domestik.
Akhir pekan ini, Los Blancos akan melakoni laga penting di La Liga dengan menghadapi Rayo Vallecano. Pertandingan tersebut menjadi momentum yang tepat bagi Madrid untuk bangkit dan kembali ke jalur kemenangan.
Tiga poin wajib diamankan jika mereka ingin mempertahankan posisi di puncak klasemen. Dengan jadwal yang padat dan tekanan dari para pesaing utama di bawahnya, kemenangan atas Vallecano akan menjadi sinyal bahwa Madrid masih solid dan tetap berambisi besar di bawah komando Alonso.
Jangan lewatkan Berita update lainnya hanya di Beritafifa
